Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, March 11, 2020

Keyla Series : Penguntit

Image result for siluet penguntit
www.lokerkata.com

Aku pernah sangat membenci akhir pekan. Ketika aku tidak berada pada hari penuh kesibukkan, kau selalu datang menyibukkan pikiranku.
Aku pernah sangat membenci akhir pekan ketika hanya kau dan kau yang ada di pikiran ku.


###


“Boleh minta tolong kirimin file yang kemarin?” kataku dalam pesan yang ku kirim padamu dua hari lalu. 
Masih jelas tertulis juga dengan singkat, “aku udah nggak punya, minta yang lain aja”
Padal sudah jelas bagiku kau tidak ada niatan membantuku. Sudah jelas juga bagiku usahaku mencari topik pembicaraan denganmu gagal total. Siapa yang peduli dengan file yang sebenanrnya sudah tersimpan rapi di laptopku, tapi semua gagal. Aku tidak mendapatkan simpatimu.

Saturday, October 26, 2019

Aku Ingin Mati, Katanya Jangan

Hasil gambar untuk siluet mendung
pxhere.com


Yang aku ingat, dari pertemuan pertama dan terakhir kita kala itu, senyumnya sangat menenangkan. Hanya dari senyumnya aku bisa yakin semua akan baik-baik saja, walau setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi.

###

Aku tidak pernah mengerti mengapa orang di luar sana memilih untuk bunuh diri. Sejauh yang ada dipikiranku, belum ada alasan yang tepat memgapa kita harus memilih menyiksa diri dengan mati kesakitan atau karena gantung diri atau meminum racun atau menyayat pergelangan tangan sendiri.

Infografis yang kubaca dari salah satu media malah mengatakan bahwa bunuh diri bisa membuat orang-orang disekitarnya merasa bersalah. Hey, siapa yang melakukan, siapa yang merasa bersalah?. Logikaku sungguh belum sampai sana, dulu.

Aku pandang lagi gedung-gedung tinggi di depanku, jalanan masih lengang, masih jam sekolah. Angin sangat terasa dari tempatku duduk sekarang, rooftop lantai tiga gedung setengah jadi yang ditunda pembangunanya karena permasalahan perijinan. Kini aku mengerti mengapa orang memilih bunuh diri. Jelas, mereka ingin membuat orang-orang yang berada disekitarnya merasa bersalah atas kematian orang lain. Setidaknya itu alasanku berada disini.
  

Thursday, June 13, 2019

Aku (Tak) Ingin Menikah

Image result for siluet berpisah
https://prelo.co.id/blog/menyikapi-perpisahan-dengan-bijak/

Seperti kau yang tidak pernah menganggap ulang tahun adalah hal penting, aku juga tidak menganggap penting sebuah pernikahan.

 ###

Beberapa orang mungkin telah membayangkan kehidupan pernikahan mereka bahkan sebelum mereka belum memiliki pasangan. Itu yang ku alami juga, dulu.

Aku anak tunggal, ayah kerja di luar kota, pulang dua minggu sekali. Mama bekerja. Walaupun begitu, aku bukan anak yang kekurangan kasih sayang orang tua. Aku sering menghabiskan waktu bersama mereka di sela-sela waktu mereka. Aku bahagia. Cukup itu.

Namun semakin kesini semakin aku mengerti apa yang kurang dari keluarga yang aku anggap “baik-baik saja”. Orangtua ku jarang mengekspresikan bentuk cinta dan sayang mereka dalam bentuk yang manis-manis. Seperti pelukan, ucapan sayang, dan cium. Mereka jarang melakukan itu. Aku sungguh tidak masalah, namun ternyata itu berpengaruh padauk ketika aku mulai mengenal apa itu jatuh cinta dengan lawan jenis.

Aku belum pernah memiliki pacar atau menjalin hubungan intens dengan seorang pria, satu-satunya cowok yang mulai kusuka adalah kakak tingkat dan membuatku mengubah keputusan untuk menjalin komitmen selamanya,

Aku mulai menyukainya sejak masuk sekolah menengah pertama. Dia anak OSIS yang menjadi panitia ospek. Dia ketua panitia. Mataku langsung tertuju kepadanya saat dia memberikan intruksi kepada siswa baru. Akuyakin, banyak siswa baru yang tertarik juga dengannya. Dan aku sadar aku bukan siapa-siapa, hanya siswa baru dengan penampilan dekil, tidak mengambil bagian penting dalam kelompok, dan tidak menarik. Tak ada kesempatan bagiku untuk diliriknya sebentar saja.

Tiga tahun aku menahan rasa kepadanya, lulus SMP aku biarkan perasaan ini tetap terbenam dihati. SMA pun aku tak tertarik dengan pria lain, hatiku masih bertahan padanya dan menunggunya. Siapa sangka, masuk kuliah, kami satu kampus, satu jurusan!

Semua dimulai dari sini, kenangan menjadi mahasiswa baru dan panitia ospek terulang lagi. Dia ketua panitia, lagi. Pun dengan aku, mahasiswi yang tidak menonjol dan tidak menarik, walaupun sudah tidak dekil. Tapi kali ini berbeda, entah mengapa dia menjadi sangat ramah kepada semua mahasiswa baru, termasuk aku. Dia menyapaku ramah, seperti panitia yang lain. Betapa senangnya hatiku walaupun sapanya bukan untukku saja. Tapi itu cukup untuk membalas penantianku 6tahun lamanya memendam rasa untuknya. Di akhir masa ospek entah bagaimana bisa, kami mulai dekat, terlibat beberapa perbincangan. Aku yang dulu pendiam sudah mulai terbiasa untuk terbuka dan berbicara banyak dengan orang-orang baru. Mungkin itu satu factor yang membuat kita dekat.

Aku bercerita kepadanya bahwa dulu kita satu sekolah saat SMP. Bagaimana dulu dia terlihat sangat cool dan aku mengaguminya. Dan aku biasa saja ketika membeberkan semuanya, aku tumuh menjadi pribadi yang sangat terbuka, mudah bergaul, dan periang. Tapi tiba-tiba aku mendadak gagap ketika dia mulai bertanya,

“sekarang gimana?”

Aku mendadak menjadi patung, tidak mungkin jika aku mengaku perasaanku padanya masih sama seperti enam tahun yang lalu, tidak mungkin aku bercerita jika tidak ada laki-laki lain yang ada dipikiranku selain dia selama itu. Aku bodoh dalam hal begini.

“ya … nggak gimana-gimana” aku hanya menjawab seperti itu dengan nyengir kuda. Sejak saat itu kami mulai dekat, sering berkirim pesan, sering pergi berdua, tapi tanpa suatu ikatan diantara kita. Aku pun yakin lebih baik hubungan seperti ini daripada terlalu jauh, aku tidak tertarik untuk menjadi pacarnya walau aku sangat tertarik padanya.

Berjalan dua tahun pertemanan kami. Aku sudah melabuhkan hatiku padanya. Sampai akhirnya kabar itu tiba.

“Nay, kemarin mas Dewa nonton sama kamu?”
“nonton?”
“iya, kemarin mas Dewa posting story tiket nonton berdua”
“ow, bukan sama aku kok”

Jantugku langsung berdetak kencang, dadaku sesak. Aku buru-buru melihat storynya, sial, ada emoticon love. Di malam ulangtahunku dia pergi bersama orang lain? bahkan dia belum mengucapkan selamat kepadaku.

Aku berlari ke kamar mandi, menahan air mata yang terbendung lagi. Keluar dari kamar mandi jelas semua, siapa yang pergi Bersama mas Dewa semalam. Aku melihatnya dengan seorang wanita sedang bercanda ditangga, berpegangan tangan. Mas Dewa melihat kearahku, raut mukanya berubah, dia menyapaku dengan gagap, tapi genggamannya tak dilepas.

Aku melangkah meninggalkannya, hanya tersenyum, inginku kembali ke kamar mandi, tapi kakiku terlanjur maju berlawanan arah. Sial.

Sejak saat itu keputusanku untuk tidak memiliki ikatan adalah benar, untuk apa menikah? Bukan aku tidak tertarik dengan lawan jenis setelah ini, hanya menjadi sendiri sudah cukup bagiku. Toh mama juga bisa bertahan walau ayah bekerja. Mama bisa merawaku sendiri. Lagipula untuk apa sebuah ikatan jika tidak menjamin kita akan  bertahan selamanya dengannya?

Seperti kau yang tidak pernah menganggap ulang tahun adalah hal penting, aku juga tidak menganggap penting sebuah pernikahan.

Sunday, May 5, 2019

Keyla Series : Keyla dan Gosip Tentangnya



Image result for siluet psikopat
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3896723/terungkap-tanda-tanda-yang-ditunjukkan-oleh-seorang-psikopat

















Jelas sekali, aku masih ingat sore itu Keyla tersenyum padaku, tapi senyum yang berbeda.

###

Siang itu aku harus menemui Andi, menyelesaikan maket yang harus dikumpulkan lusa. Kami telah bersepakat untuk mengerjakannya di ruang laboratorium. Andi telah berada disana ketika aku datang. Aku menyapanya dan menaruh tas di dekat pintu, mulai berdiskusi dengan Andi.

Hampir dua jam kami menyelesaikan maket, Andi rekan yang sangat menyenangkan, dia pekerja keras, humoris, dan penyayang. Sayangnya ada gosip yang tidak mengenakan tentang Andi, yaitu pacarnya, Kayla. Kayla bukan anak terkenal di kampus, dia cenderung pendiam dan terlihat seperti orang biasa. namun dikalangan anak-anak angkatanku Kayla terkesan "aneh" mereka bilang Kayla memiliki gangguan jiwa, semacam psikopat. aku sebenarnya tidak terlalu percaya dengan apa yang diomomngkan oleh orang-orang, karena sejauh ini hubunganku dengan Kayla baik-baik saja, ya mungkin karena kami juga tidak terlalu banyak terlibat dalam suatu kegiatan.

Beberapa gosip mengatakan bahwa dia orang yang sangat posesif dengan pacarnya, bahkan tidak tanggung-tanggung dia bisa menyelakai orang yang dia pikir akan merebut pacarnya itu.
Hmm, Aku jadi deg-degan mengerjakan tugas bersama Andi seperti ini.


Monday, February 11, 2019

Nayla Series : Kutukan Nona Lisa

Hasil gambar untuk wanita sihir siluet
https://pxhere.com/id/photo/1435531

Selepas kelas berakhir dan semua orang sudah pulang, suasana disini hening. Menyisakan aku dan Putri yang masih mencari wi-fi gratis di ruangan yang cukup luas ini. Gerimis di luar semakin deras, angin bertiup lebih kencang, bulu kudukku berdiri, kedinginan. Sore semakin gelap petanda menuju petang. Ah, aku tidak suka keadaan semacam ini, menakutkan.

xxx

“Nai, percaya kutukan nggak?” suara Putri memecah keheningan di antara kami.

“Ngg, nggak” aku yang tidak tau arah pembicaraan Putri menjawab asal

“Kalau santet”

“hah? …” aku diam sesaat. Putri salah mengambil topik pembicaraan nih.
“… percaya. Kenapa si?” tanyaku tak betah dengan pembicaraan yang tak jelas arahnya, terlebih 
karna aku sudah memikirkan hal-hal aneh di luar itu.

“emm, kamu tau Lisa, anak UKM tari itu?”

“Iya tau” jawabku semakin penasaran dengan pembicaraan Putri

“Percaya nggak kalau dia punya kutukan?

“Punya? Kena kutukan maksudnya?”

“Bukann, punya. Jadi dia bisa mengutuk orang gitu”

“Nggak paham”

“Ih, kamu tau kan cerita kalau pas SMA dulu dia pernah suka sama orang, udah hubungan deket, eh cowoknya tiba-tiba menghilang dan bikin Lisa depresi berat?”

“Iyya tau, trus?”

“Katanya, ada kutukan buat cowok-cowok yang pernah deket sama Lisa, trus ninggalin Lisa gitu aja, PHPin Lisa intinya, nanti bakal balik lagi dan malah ngejar-ngejar Lisa. Kayak cowok yang pernah deket sama Lisa waktu SMA”

"Kebetulan kali. Unfinished business. Wajar. Aslinya emang tu cowok masih suka Lisa”
“Ih, nggak ya Nai. Hal ini tu kejadian beberapa kali. Waktu tahun pertama kuliah juga gitu, dia suka atlet, eh tiba-tiba tu cowok up-load foto sama pacarnya. Lisa galau tu, beberapa bulan kemudian cowoknya putus, trus ngechat-ngechat Lisa gitu”
“Masak sih? Emang Lisa sebenernya cantik, baik juga. Mungkin karma buat si cowok. Trus Lisa nanggepin nggak?”
“Nah, ini yang menarik dari kutukan Lisa, ketika cowoknya udah sadar kalau dia suka Lisa, Lisa nggak nanggepin tu cowok lagi. Padahal, gosip yang beredar, Lisa masih suka sama tu cowok. Katanya biar tau rasanya sakit hati”
“Hahaha, bagus-bagus, suka caranya Lisa.”
“Tapi nakutin nggak sih Nai. Semua cowok bakal kayak gitu kalau deket Lisa”
“Biarin aja, biarin pada kena kutukan.”
“Kamu tau nggak Lisa jurusan apa? Aku si curiga dia belajar kek gitu dari kuliahnya”
“Emang jurusan apa?”
“Jurusan psikologi. Dia pasti pinter mempengaruhi orang”
“Haha” Aku hanya tertawa nyengir. Dugaan Putri yang melenceng membuatku tidak tertarik lagi dengan pembicaraan ini. Mana ada jurusan yang bisa bikin kutukan. Seandainya bisa, aku ingin memiliki kutukan seperti Lisa, aku juga ingin dia merasakan sakitnya ditinggal diam-diam tanpa kabar seperti ini, atau yang tiba-tiba datang kabar tapi sudah bersama orang lain. 
Kau, beruntung aku tidak memiliki kutukan nona Lisa.

Wednesday, November 7, 2018

Nayla Series : Melepasmu



Aku selalu suka sore hari yang cerah. Dimana lelah dapat besandar dan orang-orang terkasih dapat bertemu. Seperti sore ini, aku keluar dari tempat kerja dan menuju taman pinggir jalan. Matahari yang mulai menguning menjadi pemanis daun yang berguguran. Seseorang dari arah yang sama datang mendekat.


“hai Nay, udah lama?” sapa mas Randi. Seseorang yang ku kenal di tempat kerja part-time tiga bulan yang lalu.


“baru kok” jawabku mencoba santai. Aku tak pernah benar-benar biasa saja jika berbicara dengannya. Kami jarang bertemu karena memang berbeda divisi, chattingan pun bisa jadi hanya seminggu sekali. Kami bertemu saat rapat salah satu projek di awal kedatanganku. Awalnya aku biasa saja dengan kehadirannya, namun semakin sering bertemu di projek yang sama aku semakin mengaguminya. Entah suka, kagum atau cinta, ah aku tidak berani berkata cinta, dia adalah lelaki dewasa berumur 28 tahun sedangkan aku mahasiswi semester 7 yang masih mager untuk mengerjakan skripsi. Satu lagi, aku bukan tipe orang yang percaya pada kata pacaran, pun sepertinya dia demikian. Aku mencoba menjaga perasaanku untuk tidak terluka.


Pagi tadi, mas Randy mengirimiku pesan, dia ingin bertemu denganku sore ini, aku menyanggupinya.


“Nay, entah bagaimana mengatakannya. Tapi jika aku boleh jujur aku ingin kau mejadi pasangan hidupku. Kita akan ke Semarang dan ku kenalkan kau dengan kedua orangtuaku. Aku ingin kau menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin kita menikah.”


Deg


Betapa senang hatiku. Orang yang selama ini ku kagumi ternyata memiliki perasaan yang sama. Mas Randy tidak pernah menampakkan perasaannya selama ini. Dan tiba-tiba dia mengatakan hal ini. Tuhan, cobaan atau hadiah kah sore ini?


Aku diam sesaat, menghapus butir air mata yang menumpuk di ujung mata dan menarik nafas, mencobab menenangkan diri.


“Aku nggak tau mas. Kalau boleh dibilang, mungkin ya, aku tertarik denganmu, bisa jadi cinta. Tapi masih ada tanggungjawab yang harus ku selesaikan kepada kedua orangtuaku. Pun aku paham posisimu dihadapan orangtuamu. Aku benar-benar nggak tau mas.”


“itu bukan hal sulit Nay. Aku bisa menunggu hingga kau lulus kuliah”


“Aku tidak bisa membuatmu menungguku hingga lulus kuliah, mas. Aku tidak bisa menjajikan apa-apa kelak, walau saat ini aku juga memiliki rasa yang sama”


Sial, mengapa jadi serumit ini mendapatkan hal yang sudah sering kau bayangkan. Mas Randy masih menatapku, sudah ingin menangis saja raanya diriku.


“beri aku waktu mas”


“untuk apa? Kau meragukan penantianku? Aku ada saat kau datang kapan saja Nay”


Arghh, lelaki macam apa yang berkata seperti itu?


“Ok. Tapi … jika benar kau ingin menungguku, aku ikhlas, jika dalam penantianmu itu … kau menemukan wanita yang lebih baik dariku. Tak perlu meminta ijin kepadaku, karna itu akan menyakitkanku, pilih dia mas.”



Angin sore berhembus pelan, aku masih menjaga agar benteng pertahanan ini tidak jebol dan banjir di pipi. Mas Randy hanya diam setelah jawabanku. Dia tau benar, dia pasti tau benar apa yang ku katakan.

Sunday, October 14, 2018

Nayla Series : Dan Aku Menyerah

Hasil gambar untuk angin sore
http://nikocpratama.blogspot.com/2013/09/angin-sore-5.html


Apa benar orang yang peduli bisa menjadi orang yang benar-benar tidak peduli?

### 

Aku membuka sebuah pesan lama dari seseorang yang sudah lama juga merebut hatiku. Dia membawa hatiku pergi namun tak pernah sekejap mengijinkan untuk tinggal didalam hatinya, terombang-ambing tak jelas.


“bagaimana kabarmu?”


Terakhir kali. Ku coba untuk mengiriminya pesan. Dengan sejuta gengsi yang sudah kupendam jauh-jauh, sudah mati rasa malu ini di depannya. Namun semua itu sia-sia, tak sebanding dengan caranya yang hanya melihat pesanku tanpa membalasnya. Cukup. Aku menyerah.

Sejak saat itu aku sadar, perjuanganku untuknya sudah berakhir. Dia yang pernah membawa hatiku jauh. Membuatku melayang setiap mendengar suaranya, membuat setiap kupu-kupu yang ada di perutku bertebangan bebas, membuatku berhenti bernafas hanya ketika aku melihatnya.

Aku heran, sebegitu kuatnya kah sebuah kenangan? Kesibukan sehari-hari berhasil membuatku melupakanmu, sejenak. Namun bayanganmu tak pernah mau benar-benar pergi. Aku masih merayu diriku sendiri untuk tidak meharapkanmu, bahkan memikirkanmu.

Tapi kini semua sudah berbeda. Aku sudah tidak memikirkanmu lagi. Aku sudah bisa untuk tidak mengharapmu lagi. Aku sudah terbebas dari belenggu rasa yang menyiksa.

Tapi aku bohong. Setiap do'a ku selalu tersisip namamu. Semoga, kau yang disana. Selalu dalam keadaan baik-baik saja dengan tujuan hidupmu, walau arahnya tak selalu sama denganku.. 

Dan terjawablah semua. Orang yang peduli tidak akan pernah bisa untuk benar-benar tidak peduli.

Monday, August 20, 2018

Terlihat Kuat

Hasil gambar untuk senja di pantai
http://www.satyawinnie.com/2016/05/air-panas-dan-senja-sendu-di-pantai-kawaliwu.html

“mas,”

“ya?”

“aku punya temen, dia aktiv banget, banyak ikut organisasi, kenalannya banyak, anaknya ramah juga,”

“trus?”

“kemarin, waktu acara gathering aku mergokin dia lagi diem, sendirian, cuman ngeliatin lampu-lampu dari pinggir balkon. Ya wajar orang ngeliatin lampu kota. Tapi aku nggak pernah liat dia kayak gitu, dari sorot matanya kayak ada yang kurang, kayak bukan dia. Aku heran aja kok bisa ya dia kayak gitu”

“emmm, jangan-jangan orang yang terlalu banyak teman adalah dia yang paling takut sendirian. Jangan-jangan orang yang menjalin banyak relasi adalah dia yang takut terluka dengan hubungan yang terlalu dalam. Bisa jadi, mereka adalah orang yang berhati kecil?”


Penjelasan mas Alvin baru saja membuatku melihat dengan sudut pandang baru. Jika memang benar demikian, betapa menyedihkannya orang seperti itu. Mereka yang selalu dianggap kuat, yang selalu dibanggakan, rupanya terlalu rapuh ketika sendiri.


Aku masih terdiam, terkagum dengan jawabannya. Mas Alvin selalu bisa memberi penjelasan dari setiap hal yang kutanyakan. Dia selalu membuatku terpukau. Bagaimana bisa aku tak jatuh hati padanya, bagaimana bisa aku tak rindu berdiskusi dengannya.


###


Angin sore ini bertiup lembut memberikan kesegaran. Matahari yang hampir terbenam menyadarkanku akan perpisahan dengannya yang akan segera terjadi. Besok, kami harus kembali pada kesibukan masing-masing. Aku yang begitu rapuh ketika merindukannya harus bersabar dalam waktu yang tak pasti untuk melihat senyumnya lagi.


###


Mas Alvin mengajakku beranjak, berjalan meninggalkan senja yang menggelap. Dia menaikan wajah sambal berkata,

“tapi, jangan pernah mengasihani orang seperti mereka. Bisa saja, mereka memang tak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Mereka hanya perlu teman dan terlihat kuat dengan apa-adanya mereka”

Yaa, seperti aku yang selalu ingin terlihat kuat saat kau tak di sampingku.

Tuesday, June 12, 2018

Sisil Stories : Yang Tak Pernah Terucapkan

Hasil gambar untuk daun jatuh
https://medium.com/@dhesagita/daun-jatuh-b66492e0759f


Ada yang kosong saat sosok yang dicinta pergi.
Ada yang bimbang saat sosok yang didamba hilang.


###


15 menit setelah pembicaraan berakhir, kau masih diam memandang jalan.
Apa yang sejujurnya ingin ku dengar darimu tak pernah terucap. Aku berdiri, memandangmu sekilas dan berjalan pergi tanpa pamit. Seperti yang sering kau lakukan, tanpa pamit.

Sunday, June 10, 2018

Menanti Semesta

Hasil gambar untuk langit sore
https://www.flickr.com/photos/seasandsunsky/2500534529

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Masing-masing dari kita seperti memberi clue untuk diketahui yang lain. Tanpa ingin mengatakannya langsung dan tanpa ingin diketahui terang-terangan.


Seperti siang ini, aku ingin sekali mengabarimu bahwa aku sudah tidak lagi berada di kota hujan,-Bogor, melalui postingan media sosial. Sudah tidak lagi berada di tanah rantau yang pernah mempertemukanku denganmu. Dua jam kemudian, dengan cara yang sama kau juga mengabarkan bahwa kau telah tiba di tanah Minang, tanah kelahiranmu. Semua ini seolah menggambarkan bahwa kita ingin saling bertegur sapa namun sulit berkata dan enggan memulai.


Monday, June 4, 2018

Nayla Series : (Bukan) Orang Ketiga

Hasil gambar untuk senja
https://arfika.wordpress.com/2012/10/25/senja/



“Nay, kemarin bukannya si Alvi bawa cewek ya” Suara Sarah mengganggu konsentrasiku. Beberapa hari kedepan pasti ini akan menjadi topic hangat diantara aku dan Sarah.

“Iya” jawabku singkat tak ingin mengingat terlalu dalam.

“Ih, kok cuman gitu si” Sarah tak terima dengan jawabanku yang tidak memuaskannya. Aku tak menjawab.


Kemarin siang, saat kami sedang menyerahkan perijinan tempat magang, Alvi datang bersama orang lain, seorang cewek. Kami tidak sempat saling menyapa.
Alvi adalah mahasiswa jurusan Komunikasi dari kampus sebelah yang kebetulan berada di satu tempat magang denganku. Kami berkenalan saat survey hari pertama. Anaknya yang easy going membuat kami gampang akrab. Sarah yang melihat kedekatanku dengan Alvi mulai menggodaku, Aku yang awalnya tak punya perasaan apa-apa kepada Alvi mulai tergoda akan pesonanya.


Tuesday, May 29, 2018

Nayla Series : Kau dan Lapangan Basket


Gambar terkait
https://apkname.com/id/basketballwallpaper.wsp.com


Lima tahun yang lalu. Kehadiranmu yang  tiba-tiba membuatku tersenyum di pinggir lapangan basket. Botol minum yang baru saja kubeli berasa tidak ada artinya lagi, aku sudah tidak haus.


Sesering kau datang pada saat jadwal latihanku, sesering itu pula kita bertemu tanpa saling sapa. Tidak ada yang menyedihkan. Aku yang terlalu takut menyapamu, kau juga yang mungkin mengganggapku tidak ada. Tidak apa, aku menikmatinya. Aku suka bagaimana saat kau datang, tiba-tiba jantung ini berdetak lebih cepat. Aku suka saat kau datang tiba-tiba aku merasa butuh oksigen lebih banyak untuk bernapas. Aku menikmatinya.

Thursday, May 17, 2018

Sirup Buatan Mama

Hasil gambar untuk es serut
https://www.youtube.com/watch?v=P5cgeyo7jPk


Puasa Ramadhan masuk hari kedua, masih 28 hari lagi jika tahun ini genap 30 hari. Tapi rinduku akan rumah sudah menumpuk bagaikan es serut yang menggunung di dalam mangkok besar ditemani potongan buah dan agar-agar.


Waktu bedug akan berbunyi 15 menit lagi, beberapa orang di ruangan ini masih sibuk menyiapkan takjil buka puasa, sebagian besar yang lain sedang bermain dengan adik-adik panti asuhan diruang tengah. Aku sendiri sedang berada di depan mangkok besar berisi es serut ini. Sarah berjalan kearahku,

“Sa, tolong es nya dikasih sirup ya. Aku mau cek yang lain dulu”

“oke” sahutku sambil menerima sebotol sirup berwarna hijau yang belum dibuka tutupnya.
Dengan kekuatan ekstra akhirnya aku berhasil membuka botol sirup itu. Cairan kental berwarna hijau itu tertuang apik dari bibir botol menuju puncak es serut, warnanya sangat canik, sama seperti sirup buatan mama dulu.
  

Saturday, May 5, 2018

Perpisahan yang Terulang

Www.google.com
Tadi pagi. Entah bagaimana awalnya, kau sudah berada dirumahku, sudah akrab dengan orang-orang didalamnya, bahkan denganku.


Padahal, masih jelas teringat, kita sempat tak saling sapa beberapa tahun ini. Kau yang sibuk dengan urusanmu dan aku yang terlalu takut memulai.


Tuesday, May 1, 2018

Ha(h)lusinasi

Hasil gambar untuk siluet duduk di pantai
https://coretanpetualang.wordpress.com/petualangan-alam/pantai/bersantai-menikmati-senja-di-pantai-marina-semarang/

Hari ini, berita tentang seorang pria yang membunuh mantan pacarnya muncul di tv. Pria itu termakan cemburu karena sang pacar mengenal pria baru dan lebih memilih untuk meninggalkannya, dia kalap dan membunuh sang pacar.

Apa seperti itu jika lelaki sedang patah hati? Hingga dengan mudah setan masuk menghasutnya? Mengerikan sekali.


###


“Besok ada waktu? Mau nemenin ke Marina?”

Pesan dari Dewa masuk sepuluh menit setelah aku keluar kelas, mata kuliah Psikologi Abnormal.


###


Sore ini angin bertiup lebih kencang, pantai Marina dengan cantik menyajikan jingga di ujung waktu. Kita duduk bersandingan, saling diam menikmati senja.


Aku menoleh ke arahmu, selalu terpana dengan mata dibalik kaca itu, menyejukkan namun penuh misteri. Bisa kupastikan, jika nanti aku akan hidup denganmu, mau susah atau senang, semua akan terasa manis. Pasti.


“mau minum?” katamu sambil menyodorkan sebotol air mineral.


“makasih” kusambut botol itu.


Rasa airnya agak berbeda, sedikit manis, namun berlebih. Lidahku selalu bisa mengenali rasa air mineral karena aku pecinta air putih, namun yang seperti ini baru kali ini aku rasakan.

Ingatanku kembali ke tiga tahun lalu, bagaimana aku mengenalmu dan sebulan terakhir kita mulai akrab.

Masih jelas terbayang bagaimana aku menjadi stalker handal, mengorek semua informasi tentangmu, dari awal kau masuk kuliah hingga putus dengan mantanmu. Lagu-lagu yang kau pilih saat sendu dan status-statusmu di social media seakan tak ingin berpisah padahal sebulan kemudian mantanmu memiliki kekasih baru. Tragis. Hahaha.


“liat mbak-nya yang di sebelah sana ?” tanyaku memulai percakapan

“Iya, kenapa?” kau menoleh menghadap gadis yang berjarak lima meter darimu.

“Kasian banget masnya, dicuekin, ditinggal mainan HP. Pasti lagi chattingan sama selingkuhannya. Hahaha”

“Haha, kalau aku jadi masnya, aku kasih minum, trus aku racunin”

“Hah?” aku kaget, namun tidak tersentak. Aku baru ingat, pesan dari Dewa belum kubalas.

Wednesday, March 28, 2018

Menikah (Tidak) Denganmu



Gambar terkait
http://www.makarska-post.com/index.php/zasto-se-suti-o-obiteljskom-nasilju-nad-muskarcima/
Aku mimpi buruk semalam. Bukan menakutkan dalam artian horor, setan atau yang lainnya. Dalam mimpiku semalam aku dinikahkan oleh seseorang yang baru kukenal, dijodohkan. Aku tak mengerti bagaimana pada akhirnya bisa menyetujui pernikahan itu dan menikah dengannya.


Acara akad nikah  telah terlaksana, semua masalah dimulai setelah ini.


Suamiku adalah seorang pengusaha kaya dan baik hati, begitupun keluarganya. Sayangnya, aku belum pernah berbicara dalam dengannya. Segala urusan pernikahan diurus oleh keluarga suami.

Friday, February 23, 2018

Kesandung Lapangan Basket

Gambar terkait
https://fineartamerica.com/featured/basketball-court-sunset-jun-pinzon.html

Duggg.


Bola itu lepas dari tanganku, menggelinding mendekati ke arah lawan, samar kulihat seseorang disana mengambilnya, entah siapa. Badanku tak bisa ku kondisikan, sudah dalam posisi tertelungkup, tanganku terasa perih, dengkulku juga, sepertinya celanaku sobek.


Seseorang lelaki yang kulihat dari sepatunya mendekatiku. Oh tidak, wasit dari permainan ini, mas Dafit, hatiku berdetak lebih kencang, kini pikiranku fokus terhadap jantung yang tak terkenadali ini dibanding rasa sakit dari semua lukaku. Di belakang mas Dafit ada Sarah yang berlari menghampiriku. Permainan berhenti sejenak.


"Kamu nggak apa-apa Nay?" kata mas Dafit pelan
"Nay, nggak apa-apa kan?" kata Sarah cemas.


Ah, bagaimana bisa aku menjelaskan ini semua tidak apa-apa? tangan dan dengkulku sangat perih. Apa mereka tidak melihat aku terjatuh tadi? tersandung kakiku sendiri, ah, sangat tidak elegan.


Mas Dafit mengulurkan tangannya bersamaan dengan tangan Sarah untuk membantuku berdiri. Aku menyambut tangan Sarah. Sungguh aku ingin sekali mas Dafit yang membantuku, namun aku tidak kuat menahan detak jantung ini jika lebih dekat dengannya. Aku berdiri perlahan dan dipapah Sarah menuju pinggir lapangan basket, temanku yang lain memberiku obat merah dan minum, yang lainnya mengerubung-ingin tahu. Permainan dimulai kembali.


Dari pinggir lapangan ini aku memperhatikan mas Dafit. Seorang pemain basket dari sekolah tetangga yang ku kenal dua bulan yang lalu karena sparring basket juga. Hari ini sparring dilakukan lagi, Dia menjadi wasit pertandingan tim cewek. Aku belum banyak berbicara dengannya, tepatnya belum pernah. Ya ampun, dia tadi berbicara denganku lebih dulu, mengapa aku malah mengabaikannya. Bodoh.


Thursday, February 22, 2018

Bahagia Untuk Wanita Lain



https://senitea.files.wordpress.com/2012/07/orang-baru-nih.jpg

Kulihat lagi foto kita berdua, foto pertama kita di malam koordinasi saat kasus kerusuhan salah suku timur, tersenyum lebar dengan deretan gigi berjajar rapi. Dalam foto itu kau dan aku sangat bahagia.
Ingatanku kembali ke masa lalu bagaimana awal kita bertemu, berkenalan, akrab, dan saling berkirim pesan. Tapi hari ini semua harus terselesaikan.

Aku mengenalmu saat yang lain mulai menjodoh-jodohkanmu dengan yang lain. Aku tidak pernah tahu itu hal yang serius. Kalian yang memang satu komunitas sering pergi berdua, sekedar menjalankan tugas, pikirku. 
Kau yang terus bersikap baik padaku pun tak pernah menghiraukan candaan mereka. 
Tapi aku wanita, aku tahu bagaimana dia yang berada didepanku malam itu begitu mengagumimu, dia yang begitu misterius di depan kami semua begitu terbuka denganmu, aku tahu dia menaruh harapan padamu.


Malam terus berjalan dan tugas lapangan ini semakin membuatku tetap berada di dekatmu, pun dengannya. Semakin aku mengenalnya semakin perih hatiku, pengalaman pahitnya mungkin membuat dia menjadi sangat tertutup. Jika aku menjadi dirinya, aku tak kan sanggup menjalin komitmen dengan seorang pria lagi. Sudahlah aku tak sanggup mengingat wanita itu lagi.


Thursday, November 30, 2017

Kepergianmu

Gambar terkait
https://gedubar.com/3804-kuikhlaskan-kepergianmu-demi-kebahagiaanmu/

Aku tak pernah mengerti ternyata rasanya akan sepedih ini. Berulang kali dalam banyak hal mereka datang dan pergi, namun yang satu ini tak pernah tersangkakan.
Kepergiannya memang akan terjadi, aku saja yang hanya tidak tahu akan secepat ini.


Aktivitas kami masih berjalan lancar lima bulan yang lalu, hingga akhirnya dia yang seharusnya menamatkan kuliah pada semester lalu masih berkutat dengan tugas akhirnya sebagai mahasiswa D3 jurusan komunikasi. Kami bergabung dalam sebuah komunitas broadcasting kampus. Jangan ditanyakan lagi bagaimana kedekatan antar anggota, ini adalah sebuah tempat yang pas untuk pulang ketika kita telah menamatkan bangku kuliah dan melalangbuana.



Dan hari ini, sebuah kabar mengejutkan datang.

“Aku udah gak di Solo”

Entah apa yang membuat angin bertiup sangat kencang hingga awan kelabu mampu menggantikan cerahnya matahari dalam hatiku. Aku tidak menanyainya lebih lanjut. Cukup tahu jika keberadaannya tidak di dekatku lagi.


Berbagai penjelasan datang silih berganti dalam pikiranku, mencoba memberi penenang untuk diri sendri. Ternyata memang sudah waktunya dia pindah kampus, transfer ke jenjang strata satu di kampus yang lebih benefit, entah dimana. Mungkin dia sudah menyelesaikan segala proses pendaftaran dan lebih baik jika segera menyiapkan diri di kampus baru. Bisa jadi dia kembali ke kampung halamannya, mengabdi untuk tanah yang telah membesarkannya dan melanjutkan kuliah disana. Bisa saja.



Sunday, November 12, 2017

Dia (Bukan) Temanku

Gambar terkait
https://www.linkedin.com/pulse/never-pretend-someone-you-assia-ouchchen

Entah bagaimana bisa dia menyebut nama wanita lain saat kami sedang bersama. Bukan pertama kalinya, ini kesekian kali dengan kesekian nama perempuan yang dia sebut. Aku tidak pernah merasa sedih atau marah, aku hanya bingung mengapa dia senang menceritakan kisahnya dengan wanita lain di depanku. Berbeda dengan yang sebelumnya, nama yang dia sebut kali ini cukup membuatku terkejut.


Lala, wanita yang dia sebut, adalah teman satu komunitasku. Kami berteman baik. Dia paham betul aku sering bertemu Lala. Malam itu dia bercerita banyak tentang Lala, dan untuk pertama kalinya aku cemburu.

###

Aku tidak pernah merasa benar-benar memiliki seorang teman. Yaa, jika kau mengatakan sekelompok orang yang sering berjalan denganku, pergi mencari makan setalah selesai kuliah, menghabiskan malam dengan mengobrol di sebuah café, tentu ada. Namun aku tak pernah merasa memiliki mereka, atau paling tidak saling tergantung.


Bahkan ketika aku mengikuti lima dari sepuluh komunitas yang ada dikampus pun, aku masih merasa tidak memiliki orang yang benar-benar bisa kupercaya. Paling tidak untuk berkeluh-kesah.


Dan seseorang datang, dimana dia yang selalu bisa kuajak bertemu saat aku memang butuh, membicarakan hal yang tidak penting, menghabiskan malam diantara secangkir teh hangat, dan yang lebih penting, aku bisa menceritakan segala hal kepadanya.