Friday, July 20, 2018

Yang (Tak) Seimbang

Hasil gambar untuk yin yang

https://naturainstitute.com.au/six-main-principles-of-yin-and-yang-relationship/


Ketika sedang emosial
Aku merasa sangat inferior
Seisi dunia menjauihiku dan aku merasa terisolasi


Ketika aku sedang tenang,
Menjadi sendiri adalah hal yang harus dinikmati
Memiliki banyak teman adalah bonus
Kesibukan adalah rutinitas


Namun amigdala tak selamanya beriringan dengan nalar
Jiwa tak selalu menyatu dengan raga
Dan tanya, tak selalu teriring jawab

Thursday, July 19, 2018

Seperti Rumah

Hasil gambar untuk rumah animasi
https://www.kompasiana.com/nadiazahra

bisakah kau ciptakan suasana seperti rumah?
yang menghangatkan walau hujan badai
yang menyejukkan walau terik panas

bisakah kau ciptakan suasana seperti rumah?
dimana kau bisa datang tanpa harus memiliki alasan
dimana jantung berdebar bahkan saat melihatnya saja

bisakah kau menjadi layaknya sebuah rumah?
yang menerima walau berkali-kali ditinggalkan

Tuesday, June 12, 2018

Sisil Stories : Yang Tak Pernah Terucapkan

Hasil gambar untuk daun jatuh
https://medium.com/@dhesagita/daun-jatuh-b66492e0759f


Ada yang kosong saat sosok yang dicinta pergi.
Ada yang bimbang saat sosok yang didamba hilang.


###


15 menit setelah pembicaraan berakhir, kau masih diam memandang jalan.
Apa yang sejujurnya ingin ku dengar darimu tak pernah terucap. Aku berdiri, memandangmu sekilas dan berjalan pergi tanpa pamit. Seperti yang sering kau lakukan, tanpa pamit.

Sunday, June 10, 2018

Menanti Semesta

Hasil gambar untuk langit sore
https://www.flickr.com/photos/seasandsunsky/2500534529

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Masing-masing dari kita seperti memberi clue untuk diketahui yang lain. Tanpa ingin mengatakannya langsung dan tanpa ingin diketahui terang-terangan.


Seperti siang ini, aku ingin sekali mengabarimu bahwa aku sudah tidak lagi berada di kota hujan,-Bogor, melalui postingan media sosial. Sudah tidak lagi berada di tanah rantau yang pernah mempertemukanku denganmu. Dua jam kemudian, dengan cara yang sama kau juga mengabarkan bahwa kau telah tiba di tanah Minang, tanah kelahiranmu. Semua ini seolah menggambarkan bahwa kita ingin saling bertegur sapa namun sulit berkata dan enggan memulai.


Monday, June 4, 2018

Nayla Series : (Bukan) Orang Ketiga

Hasil gambar untuk senja
https://arfika.wordpress.com/2012/10/25/senja/



“Nay, kemarin bukannya si Alvi bawa cewek ya” Suara Sarah mengganggu konsentrasiku. Beberapa hari kedepan pasti ini akan menjadi topic hangat diantara aku dan Sarah.

“Iya” jawabku singkat tak ingin mengingat terlalu dalam.

“Ih, kok cuman gitu si” Sarah tak terima dengan jawabanku yang tidak memuaskannya. Aku tak menjawab.


Kemarin siang, saat kami sedang menyerahkan perijinan tempat magang, Alvi datang bersama orang lain, seorang cewek. Kami tidak sempat saling menyapa.
Alvi adalah mahasiswa jurusan Komunikasi dari kampus sebelah yang kebetulan berada di satu tempat magang denganku. Kami berkenalan saat survey hari pertama. Anaknya yang easy going membuat kami gampang akrab. Sarah yang melihat kedekatanku dengan Alvi mulai menggodaku, Aku yang awalnya tak punya perasaan apa-apa kepada Alvi mulai tergoda akan pesonanya.


Tuesday, May 29, 2018

Nayla Series : Kau dan Lapangan Basket


Gambar terkait
https://apkname.com/id/basketballwallpaper.wsp.com


Lima tahun yang lalu. Kehadiranmu yang  tiba-tiba membuatku tersenyum di pinggir lapangan basket. Botol minum yang baru saja kubeli berasa tidak ada artinya lagi, aku sudah tidak haus.


Sesering kau datang pada saat jadwal latihanku, sesering itu pula kita bertemu tanpa saling sapa. Tidak ada yang menyedihkan. Aku yang terlalu takut menyapamu, kau juga yang mungkin mengganggapku tidak ada. Tidak apa, aku menikmatinya. Aku suka bagaimana saat kau datang, tiba-tiba jantung ini berdetak lebih cepat. Aku suka saat kau datang tiba-tiba aku merasa butuh oksigen lebih banyak untuk bernapas. Aku menikmatinya.

Saturday, May 19, 2018

Bubar Bukan Buber

Sebulan berlalu, malam ini suara takbir menggema dimana-mana, "ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLAALLAAHU WALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR WALILLAAHIL HAMD". Besok lebaran. 


Aku masih disini, duduk termangu diantara penjual-penjual takjil, penjual terompet takbiran, dan anak-anak yang berlari menuju masjid sambil membawa obor. Melihat layar ponsel yang masih sepi seperti tadi.



Aku berdiri dan melangkahkan kaki, memilih pulang dan menata snack-snack kecil diatas meja, menyetrika baju lebaran untuk besok, dan menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu sambil melihat anak-anak takbiran lewat depan rumah. Yang terpenting dari semuanya, aku lebih memilih pulang untuk melupakan kekecewaanku padamu. 



"Kita ketemu langsung aja ya nanti di tempat. Jam setengah 5 aku jalan dari rumah" pesanmu sore tadi masih jelas terngiang dibenakku. Ajakan buka bersama yang secara tiba-tiba kemarin membuatku sangat terkejut. Bagaimana bisa aku menolak ajakanmu yang bahkan belum tentu setahun sekali terjadi. 



"Gimana bubernya nduk?" Tanya ibu

"Gak jadi buber bu, tapi bubar"