Friday, April 27, 2018

Selamat Jalan

Kau berbicara seolah olah masa depan adalah milik kita dan kau berusaha meyakinkanku untuk itu semua


Tidak sadarkah kau? sekarang kau masih menjadi milik orang lain dan ku pikir kau belum rela melepasnya, ah, bulshit


Kemarin, kau keluarkan lagi semua rayu dan cumbu
Hingga aku lelah dan jengah

Akhirnya, walau terluka dan merana
Aku mencintai orang yang tak berhak kumiliki
Aku hanya bisa berkata "daa"

Wednesday, March 28, 2018

Menikah (Tidak) Denganmu



Gambar terkait
http://www.makarska-post.com/index.php/zasto-se-suti-o-obiteljskom-nasilju-nad-muskarcima/
Aku mimpi buruk semalam. Bukan menakutkan dalam artian horor, setan atau yang lainnya. Dalam mimpiku semalam aku dinikahkan oleh seseorang yang baru kukenal, dijodohkan. Aku tak mengerti bagaimana pada akhirnya bisa menyetujui pernikahan itu dan menikah dengannya.


Acara akad nikah  telah terlaksana, semua masalah dimulai setelah ini.


Suamiku adalah seorang pengusaha kaya dan baik hati, begitupun keluarganya. Sayangnya, aku belum pernah berbicara dalam dengannya. Segala urusan pernikahan diurus oleh keluarga suami.

Tuesday, March 27, 2018

Benarkah Kita Muak?


Hasil gambar untuk siluet orangorang
https://pxhere.com/id/photo/1369227
Apa yang diharapkan dari pertemuan dengan orang asing? Apa karena kita bisa menunjukan siapa diri kita yang sesungguhnya atau malah menunjukan diri kita yang lain dari kehidupan sehari-hari?

Mana yang benar?

Jika memang sebegitu inginnya kita bertemu dengan orang asing, tak puaskah kita menjadi diri kita selama ini? Belum berdamaikah kita dengan jiwa kita sendiri? Mengapa? Ada yang membuatmu muak dengan kehidupan sehari-hari?

Friday, February 23, 2018

Kesandung Lapangan Basket

Gambar terkait
https://fineartamerica.com/featured/basketball-court-sunset-jun-pinzon.html

Duggg.


Bola itu lepas dari tanganku, menggelinding mendekati ke arah lawan, samar kulihat seseorang disana mengambilnya, entah siapa. Badanku tak bisa ku kondisikan, sudah dalam posisi tertelungkup, tanganku terasa perih, dengkulku juga, sepertinya celanaku sobek.


Seseorang lelaki yang kulihat dari sepatunya mendekatiku. Oh tidak, wasit dari permainan ini, mas Dafit, hatiku berdetak lebih kencang, kini pikiranku fokus terhadap jantung yang tak terkenadali ini dibanding rasa sakit dari semua lukaku. Di belakang mas Dafit ada Sarah yang berlari menghampiriku. Permainan berhenti sejenak.


"Kamu nggak apa-apa Nay?" kata mas Dafit pelan
"Nay, nggak apa-apa kan?" kata Sarah cemas.


Ah, bagaimana bisa aku menjelaskan ini semua tidak apa-apa? tangan dan dengkulku sangat perih. Apa mereka tidak melihat aku terjatuh tadi? tersandung kakiku sendiri, ah, sangat tidak elegan.


Mas Dafit mengulurkan tangannya bersamaan dengan tangan Sarah untuk membantuku berdiri. Aku menyambut tangan Sarah. Sungguh aku ingin sekali mas Dafit yang membantuku, namun aku tidak kuat menahan detak jantung ini jika lebih dekat dengannya. Aku berdiri perlahan dan dipapah Sarah menuju pinggir lapangan basket, temanku yang lain memberiku obat merah dan minum, yang lainnya mengerubung-ingin tahu. Permainan dimulai kembali.


Dari pinggir lapangan ini aku memperhatikan mas Dafit. Seorang pemain basket dari sekolah tetangga yang ku kenal dua bulan yang lalu karena sparring basket juga. Hari ini sparring dilakukan lagi, Dia menjadi wasit pertandingan tim cewek. Aku belum banyak berbicara dengannya, tepatnya belum pernah. Ya ampun, dia tadi berbicara denganku lebih dulu, mengapa aku malah mengabaikannya. Bodoh.


Thursday, February 22, 2018

Bahagia Untuk Wanita Lain



https://senitea.files.wordpress.com/2012/07/orang-baru-nih.jpg

Kulihat lagi foto kita berdua, foto pertama kita di malam koordinasi saat kasus kerusuhan salah suku timur, tersenyum lebar dengan deretan gigi berjajar rapi. Dalam foto itu kau dan aku sangat bahagia.
Ingatanku kembali ke masa lalu bagaimana awal kita bertemu, berkenalan, akrab, dan saling berkirim pesan. Tapi hari ini semua harus terselesaikan.

Aku mengenalmu saat yang lain mulai menjodoh-jodohkanmu dengan yang lain. Aku tidak pernah tahu itu hal yang serius. Kalian yang memang satu komunitas sering pergi berdua, sekedar menjalankan tugas, pikirku. 
Kau yang terus bersikap baik padaku pun tak pernah menghiraukan candaan mereka. 
Tapi aku wanita, aku tahu bagaimana dia yang berada didepanku malam itu begitu mengagumimu, dia yang begitu misterius di depan kami semua begitu terbuka denganmu, aku tahu dia menaruh harapan padamu.


Malam terus berjalan dan tugas lapangan ini semakin membuatku tetap berada di dekatmu, pun dengannya. Semakin aku mengenalnya semakin perih hatiku, pengalaman pahitnya mungkin membuat dia menjadi sangat tertutup. Jika aku menjadi dirinya, aku tak kan sanggup menjalin komitmen dengan seorang pria lagi. Sudahlah aku tak sanggup mengingat wanita itu lagi.


Thursday, November 30, 2017

Kepergianmu

Gambar terkait
https://gedubar.com/3804-kuikhlaskan-kepergianmu-demi-kebahagiaanmu/

Aku tak pernah mengerti ternyata rasanya akan sepedih ini. Berulang kali dalam banyak hal mereka datang dan pergi, namun yang satu ini tak pernah tersangkakan.
Kepergiannya memang akan terjadi, aku saja yang hanya tidak tahu akan secepat ini.


Aktivitas kami masih berjalan lancar lima bulan yang lalu, hingga akhirnya dia yang seharusnya menamatkan kuliah pada semester lalu masih berkutat dengan tugas akhirnya sebagai mahasiswa D3 jurusan komunikasi. Kami bergabung dalam sebuah komunitas broadcasting kampus. Jangan ditanyakan lagi bagaimana kedekatan antar anggota, ini adalah sebuah tempat yang pas untuk pulang ketika kita telah menamatkan bangku kuliah dan melalangbuana.



Dan hari ini, sebuah kabar mengejutkan datang.

“Aku udah gak di Solo”

Entah apa yang membuat angin bertiup sangat kencang hingga awan kelabu mampu menggantikan cerahnya matahari dalam hatiku. Aku tidak menanyainya lebih lanjut. Cukup tahu jika keberadaannya tidak di dekatku lagi.


Berbagai penjelasan datang silih berganti dalam pikiranku, mencoba memberi penenang untuk diri sendri. Ternyata memang sudah waktunya dia pindah kampus, transfer ke jenjang strata satu di kampus yang lebih benefit, entah dimana. Mungkin dia sudah menyelesaikan segala proses pendaftaran dan lebih baik jika segera menyiapkan diri di kampus baru. Bisa jadi dia kembali ke kampung halamannya, mengabdi untuk tanah yang telah membesarkannya dan melanjutkan kuliah disana. Bisa saja.



Sunday, November 12, 2017

Dia (Bukan) Temanku

Gambar terkait
https://www.linkedin.com/pulse/never-pretend-someone-you-assia-ouchchen

Entah bagaimana bisa dia menyebut nama wanita lain saat kami sedang bersama. Bukan pertama kalinya, ini kesekian kali dengan kesekian nama perempuan yang dia sebut. Aku tidak pernah merasa sedih atau marah, aku hanya bingung mengapa dia senang menceritakan kisahnya dengan wanita lain di depanku. Berbeda dengan yang sebelumnya, nama yang dia sebut kali ini cukup membuatku terkejut.


Lala, wanita yang dia sebut, adalah teman satu komunitasku. Kami berteman baik. Dia paham betul aku sering bertemu Lala. Malam itu dia bercerita banyak tentang Lala, dan untuk pertama kalinya aku cemburu.

###

Aku tidak pernah merasa benar-benar memiliki seorang teman. Yaa, jika kau mengatakan sekelompok orang yang sering berjalan denganku, pergi mencari makan setalah selesai kuliah, menghabiskan malam dengan mengobrol di sebuah café, tentu ada. Namun aku tak pernah merasa memiliki mereka, atau paling tidak saling tergantung.


Bahkan ketika aku mengikuti lima dari sepuluh komunitas yang ada dikampus pun, aku masih merasa tidak memiliki orang yang benar-benar bisa kupercaya. Paling tidak untuk berkeluh-kesah.


Dan seseorang datang, dimana dia yang selalu bisa kuajak bertemu saat aku memang butuh, membicarakan hal yang tidak penting, menghabiskan malam diantara secangkir teh hangat, dan yang lebih penting, aku bisa menceritakan segala hal kepadanya.