https://fineartamerica.com/featured/basketball-court-sunset-jun-pinzon.html |
Duggg.
Bola itu lepas dari tanganku, menggelinding mendekati ke arah lawan, samar kulihat seseorang disana mengambilnya, entah siapa. Badanku tak bisa ku kondisikan, sudah dalam posisi tertelungkup, tanganku terasa perih, dengkulku juga, sepertinya celanaku sobek.
Seseorang lelaki yang kulihat dari sepatunya mendekatiku. Oh tidak, wasit dari permainan ini, mas Dafit, hatiku berdetak lebih kencang, kini pikiranku fokus terhadap jantung yang tak terkenadali ini dibanding rasa sakit dari semua lukaku. Di belakang mas Dafit ada Sarah yang berlari menghampiriku. Permainan berhenti sejenak.
"Kamu nggak apa-apa Nay?" kata mas Dafit pelan
"Nay, nggak apa-apa kan?" kata Sarah cemas.
Ah, bagaimana bisa aku menjelaskan ini semua tidak apa-apa? tangan dan dengkulku sangat perih. Apa mereka tidak melihat aku terjatuh tadi? tersandung kakiku sendiri, ah, sangat tidak elegan.
Mas Dafit mengulurkan tangannya bersamaan dengan tangan Sarah untuk membantuku berdiri. Aku menyambut tangan Sarah. Sungguh aku ingin sekali mas Dafit yang membantuku, namun aku tidak kuat menahan detak jantung ini jika lebih dekat dengannya. Aku berdiri perlahan dan dipapah Sarah menuju pinggir lapangan basket, temanku yang lain memberiku obat merah dan minum, yang lainnya mengerubung-ingin tahu. Permainan dimulai kembali.
Dari pinggir lapangan ini aku memperhatikan mas Dafit. Seorang pemain basket dari sekolah tetangga yang ku kenal dua bulan yang lalu karena sparring basket juga. Hari ini sparring dilakukan lagi, Dia menjadi wasit pertandingan tim cewek. Aku belum banyak berbicara dengannya, tepatnya belum pernah. Ya ampun, dia tadi berbicara denganku lebih dulu, mengapa aku malah mengabaikannya. Bodoh.